Biru di Januari

By Laili Muttamimah - November 15, 2014


Credit: Anjana Menon on Unsplash
Kaki langit berubah menjadi kelabu. Senja tak lagi merona seperti sedia kala ketika perlahan rinai mulai membalutinya. Para pejalan kaki tampak sibuk menepi, membuka payung dengan tergesa, lalu melangkah bagai taburan bunga di bawah gerimis. Detik demi detik berlalu, hujan deras pun datang membasahi semesta dengan riangnya. Rintik demi rintiknya membentuk genangan, menimbulkan bunyi gemericik yang menenangkan. Di salah satu sudut kedai, seorang perempuan duduk sambil bertopang dagu. Ia menatap pecahan-pecahan air yang meluncur perlahan pada jendela besar di sampingnya, lalu melirik pada ponselnya yang membisu. Ia menghela napas dan kembali melempar pandangannya ke luar jendela. Berharap menemukan sosok yang tengah dinantinya sejak dua jam terakhir.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya tiga hari yang lalu. Pesan dari seseorang yang telah lama tidak ditemuinya, juga seseorang yang ingin ia hindari. Pesan berisi ajakan pertemuan itu membuat hatinya bimbang selama beberapa hari, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menerima ajakan itu, meski dalam suasana hati yang tak menentu. Hari ini, minggu ketiga pada Januari, ia menanti laki-laki itu. Di tempat mereka bertemu terakhir kali, tempat yang juga tak pernah ia kunjungi lagi. Secangkir kopi hitam yang tinggal seperempat menjadi saksi bisu akan penantiannya. Sejak tadi ia tak pernah bisa berhenti mengetukkan kaki, antara kesal dan gelisah menanti sosok dari masa lalunya itu. Sosok yang pernah mengisi relung terdalam di hatinya.   

Pintu kedai terbuka. Sontak perempuan itu menoleh dan memicingkan mata. Perlahan-lahan, picingan itu terbuka lebar melihat sosok yang muncul dan berjalan menujunya. Perempuan itu membenarkan tatanan rambutnya, suatu refleksasi yang sering ia lakukan tiap kali berhadapan dengan laki-laki itu. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu telah berdiri di hadapannya. Menebar senyum lebarnya yang khas, yang tak pernah lagi dilihatnya selama bertahun-tahun. Perempuan itu hanya bergeming, memuaskan rasa rindu yang membuncah dalam dadanya.

Sorry, terlambat. Lo tahu sendiri hujan bikin macet,” keluh laki-laki itu, sembari duduk dan membenarkan ujung bawah kemejanya. Perempuan itu hanya bisa menahan napas.

Laki-laki itu membuka menu di hadapannya, memanggil pramusaji, lalu menyebutkan pesanannya. Green tea macchiato. Seperti terakhir kali mereka bersua di tempat yang sama. Laki-laki itu pun berdehem pelan, kemudian menyilangkan kedua tangannya di atas meja, dan mendekatkan tubuhnya ke arah perempuan itu. Perempuan itu sontak memalingkan wajah, membuat laki-laki itu tertawa kecil melihatnya. 

"Tsk
, Syiana... sejak kapan lo berubah jadi pemalu kayak begini?” canda laki-laki itu.

Perempuan bernama Syiana itu hanya tersenyum kecil. Ia ingin sekali menjawab bahwa segalanya telah berubah setelah laki-laki itu pergi. Ia ingin sekali mengutarakannya, namun sesuatu seolah mengganjal di tenggorokannya. 

“Ternyata lo masih lelet kayak dulu. Lo tahu, nggak? Gue nunggu di sini hampir dua jam.” Itulah jawaban yang keluar dari bibirnya.

“Milan nggak pernah macet kayak Jakarta, gue nggak butuh waktu dua jam buat sampai di kedai terdekat,” balas laki-laki itu.

Syiana mendengus. “Well, sepertinya lo menikmati hidup lo di sana.”

Laki-laki itu mengangguk. “Gue mendapatkan apa yang gue mau di sana.” 

Jawaban itu seolah membentuk lubang dalam hati Syiana. Perempuan itu hanya tersenyum tipis sambil menatap hujan yang turun tanpa henti. Hujan yang menderu biru seolah melukiskan kekecewaan yang dirasakannya saat ini. 

Pesanan laki-laki itu datang, ia berterimakasih pada sang pramusaji, dan menghirup aroma kopinya. Dalam setiap detik yang berjalan, Syiana hanya memandang laki-laki itu dalam kebisuan. Potongan rambut laki-laki itu telah berubah, tidak lagi gondrong seperti semasa sekolah dulu. Kumis tipis di atas bibirnya pun telah dicukur habis, begitu pun rambut halus di sekitar jambangnya. Sembilan tahun yang lalu, mereka duduk di tempat yang sama. Dengan pesanan yang sama, namun dalam situasi dan perasaan yang berbeda. Sembilan tahun bukanlah waktu yang cepat untuk menata kembali perasaan seperti sedia kala. Sembilan tahun sejak kata-kata pengakuan itu terucap, Syiana merasa dunianya seolah runtuh saat itu juga. Sembilan tahun tanpa laki-laki itu di hadapannya bukanlah hal yang mudah untuk berjalan tanpa memikirkan apa-apa. Ada kenangan yang mengaitkan mereka, ada perasaan yang membuat perasaan mereka seolah bertaut. Kini, ketika sosoknya tampak nyata di hadapan Syiana, emosi yang seharusnya memuncak itu justru tertahan dengan kebisuan yang mengendap. 
            
“Lo masih minum kopi hitam? Pantesan kulit lo nggak putih-putih dari dulu,” ujar laki-laki itu.
            
“Dan lo masih minum apapun yang berbau green tea? Gue berani bertaruh lo bakal berubah jadi Hulk beberapa tahun lagi.”
            
Laki-laki itu tertawa. “So, how's life? Is everything fine?
             
Syiana hanya diam, menatap laki-laki itu dalam-dalam. “Ada perlu apa lo ajak gue ketemuan? Selain karena lo ada show di Jakarta dua hari ke depan.”
             
Gosh, lo sahabat gue sejak SMA. Kenapa lo musti heran kalau gue ajak lo ketemuan? Lo ingat, dulu kita selalu ke mana-mana bareng, kayak orang pacaran, dan itu sudah biasa, kan?”
             
Nggak biasa setelah lo pergi, Har. Syiana menelan bulat-bulat ucapan itu, lalu menundukkan kepala. Ia menggenggam cangkirnya kuat-kuat, menahan cerita lama yang seolah siap berputar dalam benaknya. 
             
“Oh ya, Na, gue dengar film terbaru lo dapat rating tinggi, ya? Berani bertaruh, film itu nggak bakal terkenal tanpa scriptwriter hebat kayak lo. Lo memang jago nulis dari dulu,” puji laki-laki itu, lalu menyeruput kopinya.

Syiana tersenyum.”Thanks, Har. Gue lihat, lo juga sudah enjoy sama profesi lo. Nggak nyangka lo bisa jadi desainer dan punya brand keren kayak sekarang.”
             
“Profesi ini nggak bakal jadi kenyataan kalau waktu itu lo nggak menyadarkan gue, Na. Sorry, kalau gue pernah marah karena lo diam-diam lihat gambar gue di sketch book waktu itu. Thanks, karena lo sudah bikin gue berani bermimpi, Na.”
            
And you got your dream, right?” tanya Syiana.
             
“Iya, tapi... ada satu hal yang mau gue tanyain ke lo.” Tiba-tiba laki-laki itu mengubah topik pembicaraan, bersamaan dengan raut wajahnya. 
             
“Apa?”

“Lo punya pacar sekarang?” 
         
Pertanyaan itu seolah membuat jantung Syiana mencelus. Ia menatap laki-laki itu––Harly––dengan tatapan kosong. Cerita lama itu tidak bisa lagi ditahannya, ia pun membiarkan cerita itu bermain dengan cepat dalam benaknya. 
             
“Nggak.”
             
Harly mengerutkan dahinya, lalu perlahan tersenyum jahil. “Nggak punya pacar, tapi punya calon suami. Ya, kan?” ledeknya.
            
Syiana menggeleng. “Nggak, Har.”
             
Why, Syiana?”
            
Sesaat pertanyaan itu terlontar, Syiana tidak bisa menahan kekecewaannya lagi. “Karena gue nggak bisa percaya sama cinta.”
             
Mendengar itu, Harly menatap Syiana bingung. “Kenapa nggak bisa? Ayolah, Na, lo sudah 29 tahun. Seharusnya lo sudah berkeluarga sekarang. Lo bukan lagi ‘Syiana SMA’ yang sering galau nangisin cowok.”
            
"Dan satu-satunya cowok yang sering gue tangisin waktu SMA, nggak lain adalah lo, Har. Lo percaya?"
             
Kerutan di dahi Harly bertambah, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Maksud lo, Na?”
             
"Ayolah, Har, lo bukan lagi anak SMA yang butuh ungkapan 'gue sayang lo' buat menyatakan cinta, kan?"
             
Hujan turun semakin deras, mengundang tetesan yang meluncur pelan di sudut mata Syiana. Perlahan, perempuan itu menghapusnya dan menatap laki-laki di depannya setegar yang ia bisa.
             
“Lo tahu? Cinta memang lucu. Gue yang bertahun-tahun ada di dekat lo, gue yang selalu dengar curhatan lo, gue yang bersama lo di waktu susah senang, justru menjadi salah seorang yang nggak pernah terlihat di mata lo.” Syiana tertawa getir.
            
“Gue nggak pernah tahu soal itu, Syiana,” balas Harly.
             
“Kalau pun lo tahu, memangnya semuanya bakal berubah? Sejak dulu gue sudah menduga kalau lo nggak punya perasaan yang sama, Har. Dan dugaan gue itu terbukti ketika lo jujur soal perasaan lo sembilan tahun lalu.”
            
Harly terbungkam. Ia hanya menatap Syiana dengan manik mata yang berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka bahwa ajakan pertemuan yang diawali dengan maksud reuni akan berubah menjadi satu hal yang mengejutkannya.
             
“Dari sekian banyak perempuan di dunia ini, kenapa harus dia, Har? Kenapa? Kenapa lo nggak pernah sekali aja melihat gue?” Syiana tak kuasa untuk menumpahkan seluruh kekecewaannya. Ia membiarkan dirinya membebani Harly dengan banyak pertanyaan.
             
Bibir Harly yang sejak tadi terkatup, perlahan terbuka. Sudut bibirnya terangkat sedikit, lalu ia menerawang pada jendela besar di sampingnya. Hujan yang deras mulai menyisakan rintik, para pejalan kaki pun menutup payung mereka sembari berjalan melewati trotoar. 
             
“Kenapa gue memilih dia? Gue nggak pernah tahu, Na. Bersama dia, gue merasa menemukan diri gue yang sebenarnya. Mungkin banyak orang yang nggak setuju dengan hubungan kami, tapi gue menikmatinya, Na. Gue merasa semua berjalan seperti seharusnya.”
             
Air mata Syiana terus menetes, ia menguatkan diri untuk menatap mata Harly dengan pandangan yang memburam.
             
Perlahan, Harly menjatuhkan telapak tangannya di atas punggung tangan Syiana. Laki-laki itu menggenggam tangan Syiana dengan erat seolah memberikan kekuatan. Ia mengusap tangan itu dengan ibu jarinya, lalu perlahan melepaskannya lagi.
             
“Hidup memang nggak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, Na. Ada beberapa hal dalam hidup ini yang memang harus berjalan keluar dari jalurnya. Kita hanya perlu menerima itu sebagai kenyataan,” kata Harly sembari menghela napas. “Janji sama gue, Na, mulai hari ini, lo harus kembali percaya sama cinta. Lo harus membangun keluarga yang bahagia bersama pasangan lo nanti. Mungkin takdir lo memang bukan bersama gue, Na.”
             
Syiana tersenyum getir lalu menghapus air matanya. “Thanks, Har, gue senang lo sudah menemukan dunia lo. Semoga kalian bahagia.”
             
Harly mengangguk. “Tian pasti senang dengar ucapan lo, Na. Nanti gue salamin deh ke dia. Dulu kan lo yang paling berisik teriakin dia di lapangan.”
            
Lagi-lagi, Syiana tersenyum. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya. Setelah percakapan itu berakhir, ia merasa tidak punya pilihan selain merelakan sahabatnya bersama orang lain. Sahabat yang disayanginya, bersama seorang kapten basket putra yang selalu dielu-elukan oleh para siswi di sekolah mereka. Seseorang yang mengisi relung hati Harly sejak lama. Septian Ginanjar
             
Minggu ketiga, di tengah biru pada Januari, segalanya telah terungkap.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar