When I Started Baking

By Laili Muttamimah - March 11, 2018



Setelah menulis, membaca, dan fotografi, akhirnya saya punya hobi baru, yaitu bikin kue! Hahaha. Serius, sampai sekarang saya masih nggak nyangka kalau saya bisa bikin kue. Ya, memang belum jago sih, tapi menyadari diri saya punya niat untuk belajar masak sudah jadi suatu kemajuan. Tiap kali bikin kue, saya selalu ingat mendiang nenek saya. Beliau sudah berjualan kue-kue basah sejak muda dan pandai membuat kue. Setiap lebaran, beliau selalu ambil alih untuk membuat semua kue kering yang ada, mulai dari nastar, putri salju (favorit!), sampai kue bawang. Nggak cuma itu, nenek juga jago banget bikin berbagai macam bolu dan brownies, pokoknya keahlian masak beliau nggak perlu diragukan lagi!

Sejak kecil, saya memang kepingin bisa belajar masak, tapi sampai SMA saya selalu dilarang ibu saya untuk 'repot' di dapur. Mungkin ini karena saya sering kali ceroboh dalam hal-hal yang berbau 'perempuan' seperti memasak, menjahit, dan sebagainya, jadi ibu saya nggak pernah kasih kepercayaan kepada saya untuk belajar. Beliau selalu menganggap saya ini cuma merecoki di dapur, hahaha. Tapi, sebagai perempuan, tentu saya pengin bisa masak. Bukan persoalan gender bahwa perempuan harus bisa masak, tapi saya pengin suatu hari bisa masakin keluarga saya dan bikin camilan yang enak buat mereka. Sayangnya, saya nggak punya kesempatan buat praktekkin secara langsung, sampai akhirnya saya baru benar-benar 'bereksperimen' dalam memasak beberapa bulan belakangan ini.


Ada beberapa hal yang memotivasi saya belajar masak, khususnya bikin kue. Pertama, sejak bulan Desember saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jujur saja, mengurung diri di kamar untuk mengerjakan skripsi lumayan bikin suntuk. Biasanya, saya memilih baca novel, nulis, atau main The Sims buat refreshing. Tapi, lama kelamaan, rutinitas itu bikin bosen juga. Sampai akhirnya, saya sering mantengin beberapa akun memasak di Instagram, seperti @buzzfeedtasty, @twistedfood, dan semacamnya (Thanks to you, guys!) dan berniat untuk mencoba. Menu pertama paling sederhana yang saya coba adalah pancake, dan tentu awalnya nggak berhasil! Hahaha.

Di sisi lain, Ibnu juga mendukung saya buat belajar masak. Walaupun hasil-hasil masakan saya jarang dicicipin sama dia, hahaha (maaf ya). Tapi dia nggak jarang kasih saya referensi menu buat dipelajari. Mungkin karena saya semakin dewasa, jadi Ibu saya pun memberi saya keleluasaan untuk belajar. Alhasil, dapur saya sekarang jadi tempat main baru!



Kebanyakan resep yang saya pelajari itu dari Instagram atau Youtube. Enak ya hidup di zaman sekarang, ketika semua resep bisa didapat di mana saja, tinggal praktekkin. Beda banget sama zaman nenek dan Ibu saya dulu, resep harus cari di koran atau buku. Kadang-kadang, mereka catat dari acara TV. Kalau sekarang, semuanya bisa didapat hanya lewat ponsel.

Nggak terlalu banyak menu yang berhasil saya buat, kebanyakan adalah kue. Mulai dari puding cokelat jeruk, pancake, black forest, bolu pandan, churros, sampai puding roti. Tampilannya pun masih jauh dari sempurna, tapi Alhamdulillah rasanya enak! Hahaha (memuji diri sendiri). 

Saya baru tahu kalau ternyata masak seasyik ini, bahkan bisa dijadiin opsi buat refreshing. Kegiatan ini jadi peningkatan buat saya karena sebelumnya saya cuma bisa masak air, indomie, dan telur dadar. Bahkan sebelumnya iris bawang aja nggak bisa! Hahaha. Setelah ini, masih banyak resep yang mau saya pelajari, mungkin saya mau coba bikin roti atau brownies. Doakan saja semoga saya bisa konsisten belajar masak dan menjadikan baking sebagai hobi selanjutnya! Buat kamu yang mau belajar masak, nggak ada salahnya, lho, buat mencoba. ;)

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar