Hadiah Kecil untuk Ayah dan Ibu

By Laili Muttamimah - May 06, 2018



Sampai hari ini, momen dua minggu lalu itu masih seperti mimpi untuk saya. Tepat pada Sabtu, 21 April 2018, saya resmi diwisuda bersama teman-teman sarjana dan magister lainnya. Alhamdulillah... satu proses dalam hidup sudah terlewati. Saya benar-benar bernapas lega karena telah melewati fase pendidikan 16 tahun seperti yang diharapkan oleh orangtua saya.

Sejujurnya, waktu saya masih duduk di semester awal, saya selalu antusias menyambut wisuda para senior. Saya senang memperhatikan ekspresi mereka, pakaian mereka, sampai tata rias. Namun nyatanya, beberapa hari sebelum saya akan diwisuda, perasaan antusias itu nggak hinggap sama sekali. Saya justru lebih banyak merasa terharu, entah mengapa. Berulang kali, ketika duduk di motor, saya mengulang tiap proses yang sudah saya lewati selama menempuh pendidikan sarjana. Bagaimana saya yang sempat ditolak berbagai universitas impian, sampai akhirnya mendaftar di Universitas Paramadina saat gelombang terakhir (yang kalau nggak lolos, mungkin saya nggak bakal kuliah tahun itu). Bagaimana Paramadina yang awalnya masih sangat asing di telinga, tapi ujung-ujungnya jadi tempat saya menimba ilmu walau setengah hati memulainya. Saat itu, rasanya masih pengin menyalahkan takdir yang saya anggap nggak adil karena kerja keras saya untuk masuk PTN nyatanya nggak terbayar. Tapi, pertanyaan-pertanyaan di kepala saya pada waktu itu akhirnya terjawab...

Bahwa terkadang, penolakan yang kita alami di awal, justru akan membawa kita pada pintu menuju jalan yang lebih baik.  

Mungkin saat itu, saya terlalu angkuh berpikir bisa lolos di universitas yang saya tuju karena nilai yang saya punya. Lalu, takdir membawa saya ke Paramadina, dan kampus itulah yang justru membuat saya merasa sangat kerdil. Dari kekerdilan itulah, saya merasa haus dan ingin banyak minum. Mencoba terjun ke berbagai kegiatan mahasiswa dan bermacam diskusi walau nggak jarang membuat stres luar biasa, tapi itulah yang membentuk diri saya saat ini.


Saya nggak banyak berekspektasi pada seremoni wisuda. Saya hanya ingin momen wisuda saya diisi dengan kumpul bersama orang-orang terdekat tanpa embel-embel lainnya. Bahkan saya cuma beli atasan kebaya dan pakai kain batik yang sering saya gunakan kalau pergi kondangan. Untuk tata rias pun, saya hanya mempercayakan ke tetangga saya yang punya usaha salon walau mungkin hasilnya memang nggak 'secetar' teman-teman saya yang pakai MUA. Saya juga bilang kepada orangtua saya buat nggak perlu keluarin uang untuk foto studio di kampus (yang mana paket termurah benar-benar diproletarkan), karena buat saya... satu atau dua foto tentang kami sudah cukup menggambarkan momen bahagia itu. Semua materi ini benar-benar sederhana, namun dalam hati saya merasakan kemewahan karena wisuda kali ini bisa dihadiri oleh kedua orangtua dan kakak saya (yang rela cuti, duduk sendirian di area tamu, dan melihat saya dari layar TV). Jadi, dari awal saya sudah bilang sama Ayah dan Ibu kalau saya nggak mau merepotkan mereka.

Saya tahu dalam setiap prosesi wisuda, akan ada pemilihan Wisudawan Terbaik. Namun, saya benar-benar nggak pernah kepikiran sampai ke sana walaupun sempat mendapat predikat IPK Tertinggi saat yudisium. Saya sadar bahwa banyak sekali mahasiswa yang mungkin IPK-nya jauh lebih tinggi dan lebih aktif untuk bisa mendapatkan penghargaan itu. Jadi, saya lebih menikmati prosesi wisudanya. Saya sempat terharu sekaligus senang ketika tahu orangtua saya mendapatkan tempat duduk di bagian depan, lalu mereka sibuk merekam saya pakai ponsel ketika saya turun dari panggung setelah menerima ijazah. 

Namun, saya, Ayah, dan Ibu nggak pernah tahu kalau ternyata penempatan bangku orangtua itu mengartikan sesuatu. 


Ketika prosesi penghargaan kepada Wisudawan Terbaik, dua orang MC wisuda mendeskripsikan ciri-ciri dari Wisudawan Terbaik itu. Saya langsung speechless waktu mereka bilang "Wisudawan Terbaik ini adalah seorang novelis kelahiran 26 Agustus 1996". Bukan mau geer, tapi itu memang biodata saya! :') lalu sontak teman-teman menoleh ke arah saya, dan di situ saya cuma bisa tercengang. Ada banyak hal yang terlintas di kepala tentang Ayah dan Ibu. Di situ, hati saya rasanya kayak diremas-remas dan mata saya panas. Saya nggak bisa menahan diri untuk nggak menangis. Saya langsung mengingat beberapa hari sebelumnya ketika saya terlibat pertengkaran dengan mereka.

Mungkin saya sudah sering banget bikin mereka kecewa. Bagaimana saya suka ngambek dan mudah kesal ketika merasa diabaikan. Padahal, saya hanya perlu menyadari bahwa seiring berjalannya waktu, Ayah dan Ibu nggak akan mendidik saya dengan cara yang sama seperti semasa kecil dulu. Mungkin ketika saya gagal waktu SMA, Ayah akan masuk ke kamar saya dan memeluk saya untuk menyemangati. Tapi kini, mereka nggak lagi melakukan itu, cuma berkata "kamu bisa lewatin ini, jangan cengeng." 

Semakin dewasa, saya sadar bahwa akan ada gap antara kita dengan orangtua kita. Yang mana kita bukan lagi anak kecil yang bisa dibujuk dengan es krim, tapi sudah bisa menggunakan logika kita untuk mendebat mereka. Namun, mereka selalu berpikir bahwa pengalaman hidup kita belum seberapa dengan yang mereka jalani, dan kita akan merasa nggak diperhitungkan.

Beberapa hari sebelum wisuda itu mungkin menjadi pertengkaran yang hebat, sampai saya nggak berhenti menangis dan melihat betapa marahnya Ayah dan Ibu kepada saya. Jadi, saat mereka dipanggil untuk mendampingi saya naik ke panggung untuk menerima penghargaan, tenggorokan saya tercekat dan dada saya sesak karena menahan tangis. Namun mereka tersenyum seperti biasa kepada saya, seolah-olah saya nggak pernah berdosa kepada mereka. Di situlah, tumpukan rasa bersalah itu meledak dan saya merasa benar-benar menyesal.

Saya tahu bahwa apa yang saya dapatkan ini belum bisa sepenuhnya membayar apa yang sudah mereka korbankan kepada saya. Bagaimana Ayah saya yang selalu rela mengantar dan menjemput saya dengan motornya melewati jalur Bekasi-Jakarta, tersiram hujan, terbakar panas, bermodal kantong plastik untuk mengamankan tas saya. Bagaimana beliau yang rela menunggu saya berjam-jam selesai rapat untuk mengajak pulang bersama. Beliau yang menanggalkan waktu makan malamnya hanya untuk menemani saya. Beliau yang tangannya pernah patah karena jatuh dari motor, lalu justru bilang "Ayah jadi nggak bisa anter kamu lagi" alih-alih memikirkan kesehatannya. Beliau yang selalu mengajarkan saya untuk belajar hidup sederhana karena mungkin ada saat ketika kita nggak berada 'di atas' dan kita bisa menghadapi masa-masa itu karena terbiasa menjalaninya. Belum lagi secara materi, saya nggak tahu betapa beban yang beliau rasakan ketika sudah memasuki tanggal tua dan saya butuh uang di kosan untuk makan. Hal-hal semacam itu berada jauh di luar jangkauan saya, namun saya masih egois untuk menuntut banyak perhatian darinya.

Belum lagi Ibu, yang mungkin secara emosional jauh lebih dekat dengan saya. Itu mengapa, saya justru lebih sering berdebat dengan Ibu. Sering kali saya dimarahi di rumah dan merasa Ibu saya nggak pernah menganggap saya cukup baik. Padahal, beliau cuma ingin saya belajar. Bagaimana beliau yang tiba-tiba datang ke kosan saya, lalu melihat betapa berantakan kamar saya (yang bahkan nggak setiap minggu saya bersihkan saking sibuknya), dan langsung membersihkan ruangan itu hingga saat saya pulang dari kampus, semuanya sudah rapi dan bersih. Beliau yang selalu menyambut saya tiap pulang ke rumah pada akhir pekan dan memasak makanan kesukaan saya sambil bilang "makan yang banyak mumpung di rumah". Beliau yang sering saya ketusi setiap tanya tentang aplikasi-aplikasi di ponselnya, padahal cuma ingin tahu. Beliau yang rela juga antar jemput saya ke halte busway dan mendorong sendiri motornya karena kehabisan bensin ketika nggak ada SPBU di sekitarnya.

Mungkin kesalahan saya jauh lebih banyak dari apa yang saya sebutkan di atas, itu mengapa, melihat mereka di panggung saat itu benar-benar membuat pertahanan saya runtuh. Hubungan saya dengan mereka memang begitu kasual sehingga kami sangat jarang mengucapkan kasih sayang dan memeluk satu sama lain (mungkin hanya saat lebaran). Itu kenapa, hari itu saya banyak memeluk mereka dan melepaskan kecanggungan yang selalu menghalangi tiap kali saya ingin melakukannya. Walau bagaiamana pun, saya nggak akan pernah bisa sampai di tahap ini tanpa mereka. Sungguh, penghargaan ini bukanlah diberikan untuk saya, melainkan untuk kerja keras mereka menyekolahkan saya sampai sarjana.

Ah, bahkan menulis postingan ini masih bikin saya menangis. Sejak hari itu, saya selalu berusaha mengontrol diri untuk nggak mudah emosi dan memahami mereka. Saya sayang mereka, hanya mereka orang-orang yang saya percaya nggak akan pernah menyakiti saya dalam situasi apa pun. Semoga, nggak akan ada lagi pertengkaran hebat yang terjadi. Untuk teman-teman yang membaca postingan ini, saya harap kalian bisa melakukan hal yang lebih baik daripada saya kepada orangtua kalian. Bersyukurlah jika kita merasa menyesal dan bersalah ketika mereka masih bisa mendengar permintaan maaf yang kita lontarkan, sebelum nantinya mereka pergi, dan kita hanya bisa menyebutkan maaf itu dalam doa.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar