A Man in My Yesterday

By Laili Muttamimah - December 29, 2015



Will you stay awake for me?
I don't wanna miss anything
I don't wanna miss anything
I will share the air I breathe
I'll give you my heart on a string
I just don't wanna miss anything

Lapangan itu ramai. Dalam beberapa detik saja, rombongan anak muda menjejal menjadi satu di depan area panggung. Hal yang kupikirkan saat itu hanya bagaimana cara agar bisa melihat John Vesely, penyanyi favoritku, dari dekat. Sayangnya, kita–perlu kuperjelas? Aku dan kamu–datang terlambat sepuluh menit sehingga melewatkan lagu pembuka yang dinyanyikan. Tak mungkin rasanya menerjang ribuan orang yang sudah memenuhi festival stage, kecuali jika aku rela pulang babak belur. Pupus harapanku untuk bisa menonton konser Secondhand Serenade dengan jarak intens di bawah sang vokalis agar bisa meneriaki namanya kencang-kencang. Tapi aku tidak sekecewa itu, kebahagiaan sudah terlanjur memenuhi dadaku ketika kamu menjemput untuk membawaku ke konser itu.

Kamu sangat tahu betapa aku ingin sekali berada di antara ribuan penonton itu, untuk mendengarkan Vesely dengan gitarnya menyanyikan lagu-lagu yang hampir tiap hari kuputar sebelum tidur. Kamu sangat tahu betapa gundahnya aku ketika melewatkan konser Secondhand Serenade tahun sebelumnya, yang pada akhirnya kamu rela merekam semuanya sampai akhir dan memainkan videonya untukku. Kamu memang sangat tahu bagaimana cara untuk membuatku tersenyum lagi. 

Bukan hal mudah untuk membawaku pergi ke konser itu. Kamu mengerti bahwa masalahku adalah memiliki orangtua yang protektif. Mana mungkin aku diizinkan nonton konser dan pulang larut di atas jam malam? Ditambah lagi, hari itu, aku baru saja memberikan kabar buruk pada orangtuaku kalau aku tidak lolos SNMPTN. Ah, kukira konser kali ini akan menjadi kekecewaan kedua yang hanya bisa kutelan bulat-bulat. Namun, perkiraan itu nyatanya tak terbukti saat kamu datang dan tersenyum pada orangtuaku. Aku tidak percaya kamu begitu nekat meminta izin pada orangtuaku––meski dengan sedikit kebohongan. Aku tidak percaya pada akhirnya aku bisa menjadi bagian dari mereka yang menyanyikan lagu-lagu Secondhand Serenade dengan semangat langsung bersama sang vokalis––bukan hanya membaca update dari akun fanclub seperti tahun lalu.

Aku masih ingat ketika kamu menggenggam erat telapak tanganku untuk mendesak kerumunan penonton agar bisa mendapatkan posisi yang strategis. Kita memang tidak mendapat posisi paling depan, namun setidaknya, aku bisa melihat John Vesely-ku dengan jelas. 

"Ciee, seneng kan akhirnya bisa nonton Secondhand?" ledekmu, "Anggap aja ini hiburan biar kita nggak sedih karena ditolak SNMPTN."

And if it's the hero you want
I can save you, just stay here
Your whispers are priceless
Your breathe, it is Dear.
So please stay near.

Please stay near. Itulah kata yang terus kuulang dalam otakku sambil menenggelamkan tangan di dalam kepalanmu lebih dalam. Kita menyanyikan Awake dengan suara yang ditelan keramaian, merasakan angin malam yang dingin menyusup, dan tak henti menghangatkan satu sama lain lewat dua tangan yang terpaut. Lupakan soal kupu-kupu, aku merasakan begitu banyak serangga yang terbang di perutku. Aku masih ingat ketika kita saling menoleh dan aku mendapati wajahmu tergambar seperti siluet. 

Adalah malam yang panjang namun terasa singkat. Suaraku nyaris habis karena begitu histeris. Tapi kita masih punya satu tugas untuk keluar dari kerumunan itu. Kamu menarik tangan kiriku dan menguncinya. Aku hanya membiarkan diri mengikutimu meski terdorong dari segala sisi. Aku bisa merasakan semakin lama genggaman kita mengendur, lalu kamu kembali mengeratkannya. Kita berjalan cepat menuju bagian depan, sampai tiba-tiba genggaman kita terlepas, dan terpisah. 

Yang kukhawatirkan saat itu adalah bagaimana jika aku tak bisa menemukanmu, meski aku yakin kamu akan mencari dan menungguku. Yang kukhawatirkan saat ini adalah bagaimana jika aku benar-benar kehilanganmu... dan tak ada lagi sosok yang mencari dan menungguku itu. 

Saat itu, kekhawatiranku terbayar dengan sebuah tangan yang menangkap telapak tanganku, aku melihat kamu terengah-engah dengan raut wajah cemas. Namun aku mengulas senyum dan mengatakan bahwa aku senang kamu sudah menemukanku. 

Akan tetapi, kekhawatirkanku saat ini tak pernah terbayar karena aku harus melihat kenyataan bahwa tak ada lagi sosok yang menggenggam tanganku agar aku tetap berada di dekatnya. Aku harus menekankan pada diriku bahwa salah satu cara agar bisa menghadapi perpisahan ini adalah menerimanya, bukan melupakannya.

Rasanya ingin menertawakan keadaan, menyadari betapa banyak orang yang saling jatuh cinta namun tak ditakdirkan untuk bersama. Mungkin kita termasuk dari mereka yang pernah menukar janji untuk selalu menapak di atas jalan yang sama, sampai akhirnya di tengah jalan, kita tidak menyadari bahwa ada dua persimpangan yang harus kita pilih, namun sayangnya pilihan kita jatuh pada persimpangan yang berbeda. 

Aku tahu, meski kita berjalan dengan arah yang tak sama, kita akan tetap menuju pada satu titik di ujung jalan dan berjumpa di sana. Namun yang penting bukan soal tujuan. Ini soal proses yang akan kita lakukan ketika melewati jalan itu. Meski pada akhirnya kita bisa kembali bersama, nyatanya pilihan yang berbeda itu akan membuat segalanya tak sama. Mungkin aku akan melihatmu suatu hari dengan postur tubuh yang sama, namun dengan debar yang berbeda. Aku tak mau. Tapi akankah kamu berpikir aku egois jika aku memintamu untuk tetap berada di jalan yang sama denganku? Sedangkan aku tidak bisa memaksakan diri untuk berada di jalan yang kamu pilih.

1,5 tahun adalah waktu yang panjang tanpa satu pun pertemuan yang kita lakukan. Aku tak perlu repot menanyakan bagaimana kabarmu karena aku mendapatkannya dalam setiap postingan Path dan Instagram terbarumu. Aku tak perlu sibuk mencari tahu di manakah kamu sekarang, siapakah seseorang yang kini kamu genggam tangannya, apakah kamu masih tergila-gila pada semua jenis pasta? Aku sudah mendapatkan semua jawabannya, ya. Dan aku harus puas dengan semua itu.

Kamu pernah bertanya mengapa sekarang, setelah 1,5 tahun, aku terlihat sibuk dengan segala kegiatan kampus. Pun kamu bertanya mengapa sekarang aku lebih suka hunting foto dan pergi nonton sendirian? Bukan, bukan karena kamu tak ada di sini untuk menemani. Aku hanya butuh waktu yang ingin kuhabiskan sendirian tanpa memikirkan siapapun. Kamu tahu? Di balik seseorang yang (sengaja) menyibukkan diri, ada sesuatu––dan seseorang––yang ingin ia lupakan. Mungkin sekarang kamu sudah mendapatkan jawabannya.

Mengingatmu adalah hal yang kontras bagiku. Seperti naik wahana Tornado yang membuatmu takut tapi ingin kamu coba lagi setelahnya. Aku ingin sekali menghapus masa ketika mengangkat teleponmu dengan perasaan kacau, mendebat segala ucapanmu, diam-diam menangisimu, dan merasa canggung ketika menatap matamu. Aku hampir tak pernah lagi memikirkan semua itu sebelum tak sengaja melihat video rekamanmu tentang konser tahun lalu malam ini. Ternyata, pertahananku masih seperti bedak yang akan rapuh walau hanya disentuh sedikit.

Kamu tahu? Aku marah. Aku marah ketika tak ada lagi ucapan selamat tidur khas kita setiap malam, marah ketika aku bukan lagi orang yang kamu ajak untuk maraton menonton segala jenis film, marah ketika sadar bahwa kita tak bisa lagi saling menukar cerita dan perasaan seolah memiliki satu sama lain. 

Aku ingin sekali mengguncang bahumu kencang-kencang, memukul dadamu keras-keras sampai aku puas, menumpahkan segala sesak yang kurasakan, sekaligus memelukmu erat-erat sambil menenggelamkan wajahku di bahumu dan membiarkannya basah oleh air mataku. Aku ingin sekali meneriakimu tepat di depan wajah, melontarkan segala kata-kata kasar padamu, memakimu atas segala penyakit mental yang kamu tinggalkan, sekaligus meminta maaf berulang kali karena telah menyerbumu dengan segala ucapan kasar itu. Aku ingin sekali menghapusmu dari memoriku, sekaligus menebalkan setiap cerita kembali. Aku ingin sekali membencimu sampai ubun-ubun, sekaligus menyayangimu sampai dadaku sesak karena terlalu bahagia bersamamu.

Tak ada ujungnya, ya... perasaan ini belum menemukan ujungnya. 

Kamu bisa melihatku tertawa saat ini, bercanda seperti biasa, mengenal banyak laki-laki, dan berusaha membuka hati.

Tapi... detik ini, aku tak tahan lagi.

Aku merindukan kamu.
Aku sangat merindukan kamu.

Aku rindu kamu yang tiba-tiba datang ke rumahku tanpa memberi kabar hanya untuk sekotak teh, piza, es krim red velvet, dan makanan kecil lainnya. Aku rindu kamu yang meneleponku hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak jelas sampai pukul dua pagi. Aku rindu kamu yang menyebut namaku begitu lirih di telepon, namun begitu konyol jika mendengarnya secara langsung. Aku rindu kamu yang rela menerjang hujan tengah malam di atas motor sambil sesekali mengetukkan helm-mu ke helm-ku agar aku tidak mengantuk. Aku rindu kamu yang mengorbankan waktu demi melakukan hal-hal kecil untukku, bukan karena merasa wajib, melainkan senang melakukannya.

Ada saat-saat dalam riwayat hidupku yang aku rela untuk menukar apapun demi merasakannya sekali lagi. Namun kenyataannya, masa-masa kita sudah mencapai titik limit. Kita sudah memakai kesempatan itu dan kini waktunya telah habis. 

Aku tidak tahu apakah aku masih boleh merindukanmu ketika menyebut namamu saja aku tak sanggup. Mungkin kamu akan tertawa ketika tahu bahwa aku masih saja menjadi pengecut yang menuliskan semua ini di blog-ku–alih-alih mengatakannya secara langsung padamu–dan berharap kamu akan membacanya.

Sometimes, we have done all the good things each other, but twists happen and we couldn't escape. Just realize, everything that we faced, makes us learn how to live well in this life. But the point is, I've tried the best, you've tried the best, universe's given the best, and that's we get.


  • Share:

You Might Also Like

2 komentar